You are currently browsing the monthly archive for October, 2008.
Well. Ribuan menit yang lalu gue menyempatkan diri menonton film indonesia namun tidak mencoba mengikuti ritme pasar yang menggebu-gebu menyaksikan laskar pelangi, gue malah membeli tiket untuk film besutan Om Hanung Bramantyo yang bertajuk: “Doa yang Mengancam”.
poster film “Doa yang Mengancam”
Di sini gue ga mo jadi kritikus film, cuma mo jadi penikmat-film-yang-kurang-paham-teknik-sinematografi, hehe.. So, still relax! Gue ga akan mengumbar cerita spoiler buat kalian koq, haha, tenang saja n keep reading folks!
Kenapa piilihan memanjakan mata dan hati jatuh pada film yang bisa dibilang bukan mainstream orang kita? Mainstream di sini maksudnya bukan komedi yang nyerempet-nyerempet, bukan horor.. Awalnya, gue cuma tertarik melihat akting Aming sebagai Madrim, kuli angkut di Pasar Induk, yang katanya berbeda 180 derajat dari karakter banci yang biasa diperankan. Lalu, gue juga tertarik dengan judulnya itu sendiri yang beraura negatif, coba saja dipikirkan bagaimana “doa” yang maknanya kalem dan suci bisa disandingkan dengan “mengancam” yang maknanya jauh dari positif.
Mengikuti alur cerita dari awal hingga akhir membuat gue betah tetap duduk di bangku cineplex, ceritanya begitu down-to-earth, humanioris, dan kuat itu ternyata diangkat dan diadaptasi dari sebuah cerpen karya Om Jujur Prananto yang notabene menggambarkan konsepsi ketuhanan seseorang.
Pemain-pemain pendukung di sini cukup banyak, sebut saja beberapa komedian berikut yang tampil cukup beda dari keprofesian mereka: Ramzi sebagai Kadir si pemuda masjid sahabat Madrim, Cici Tegal sebagai penagih hutang, dan Jojon sebagai bapak kades. Selain itu, juga bermunculan Desta Club 80’s, Tante Nani Widjaya, Zaskya Adya Mecha, Berliana Febrianty, Valerina Daniel, dan mungkin ada juga yang terlewatkan saking banyaknya. Sayangnya, nama Titi Kamal yang didaulat sebagai pemeran utama wanita dalam film ini kurang signifikan mengingat perannya yang seperti hanya tempelan dan kurang dominan. Titi Kamal berperan sebagai Leha, istri Madrim.
Yang mengejutkan, film ini berdurasi cukup panjang yaitu sekitar 115 menit, juga dikemas dalam tampilan format Hollywood, format yang bener-bener layar lebar, bukan seperti kebanyakan film nasional kita. Selain itu, pada akhir film juga ada kejutan di mana Om Hanung menghadirkan sebuah tampilan gaya surealis yang langka ditemukan dalam perfilman nasional. Menurut gue film ini wajib tonton mengingat butuhnya kita akan penyegaran genre film di tanah air. Content yang disajikan juga bagus karena jika kita jeli kita bisa melihat beberapa frame yang memberikan kritik sosial bernada satire, tanpa melupakan sentuhan komedi. Di dalamnya, kita bisa menemukan pesan moral meskipun muncul dalam dialog yang terkesan sambil lalu. Ketika Madrim mengeluh, Kadir sang sahabat menyaut: “Yang paling makbul itu doa ibu. Gimana mau dapet berkah kalo lo nggak pernah nyenengin emak lo.” Kalo unsur sentuhan komedi yang gue inget pas ini nih, pas adegan seorang sutradara film ngomel-ngomel karena ada gangguan pas syuting, dia ngomong kira-kira gini (gue lupa banget sih detilnya, tapi intinya dapet lah): “Film indie ini cuma punya budget buat 7 hari, emang Hanung Bramantyo yang bisa bikin film komersial.” Menurut gue ini humornya boleh juga, gatau deh pembaca blog ini, hehe..
Hmm, mendingan kalian liat dulu deh trailer berikut, kalo tertarik jangan lupa saksikan di bioskop-bioskop kesayangan anda! Oh ya, film ini juga ada unsur nge-thrill nya juga loh, apalagi pas.. *censored* (mencegah gue dibantai karena mengumbar spoiler di depan umum) =D
Film ini bukan sekadar menghibur tetapi juga mencerahkan jiwa-jiwa yang kosong, hehe.. Dalam film diceritakan Aming sampai mengancam Tuhan bahwa ia akan murtad jika hidupnya tidak juga berubah. Namun, ketika segala sesuatu dikabulkan namun muncul masalah baru yang lebih pelik, bukankah doa tadi justru didengar oleh setan? Nyata-nyatanya tidak semua doa akan dikabulkan dan kita perlu menyadarinya sebelum mengancam yang kuasa. Doa itu penting. Bisa direfleksikan, sudahkan kita berdoa dengan layak dan pantas?
Untuk menemani si insomnia yang akhir-akhir ini sangat bersahabat, ada baiknya gue mengisi waktu dengan nge-blog saja, penting ga penting, hajar bleh!
Baru-baru ini gue baca sebuah majalah fotografi online yang bisa diunduh di: Exposure. Di dalamnyaa ada rubrik namanya bazaar yang memampangkan produk-produk fotografi dari lensa, body, sampai ke monopod. Satu per satu gue cermati, oh biasa, oh wajar segitu mahalnya, 3 juta, 8 juta.. Sampe tiba-tiba leher gue tersedak, kaya ada aspal yang dijejelin masuk ke mulut gue.. Kejadian itu disebabkan oleh benda berikut ini:
lensa Canon EF 800mm f/5.6L IS USM
Gila banget! Shock gue pas ngebaca berapa nilai yang dibandrol untuk lensa yang akrab dilihat di setiap pertandingan sepak bola. Lensa super-telefoto yang diperkenalkan sejak Mei 2008 ini dihargai senilai: $11,999.00 (saat ditulisya post ini pada 7 Oktober 2008 pukul 23:53, kurs dolar BI merujuk pada nilai tengah Rp 9.657,00, maka dapat dihitung perkiraan harga lensa yang beratnya 4,5 kg itu senilai Rp 115.874.343,00). Muaknyus tenan!
Iseng-iseng gue mau bandingin sama benda yang cukup signifikan di kehidupan orang-orang urban sekarang ini, yaitu sapi! (Motor maksudnya, sapi kan kepanjangannya sapidah motor, zing!) Setelah menjelajah dalam hitungan nano sekon, terdamparlah gue di sebuah situs Astra Honda. Agar perbandingan cukup kontras, gue memutuskan untuk memilih sepeda motor dengan bandrolan harga termahal yang akhirnya jatuh pada si ganteng:
motor Honda Tiger CW
Sepeda motor 200 cc ini dipatok dengan harga on-the-road senilai Rp 23.500.000,00.
Setelah mendapatkan kedua harga, gue bergegas ke dapur ngambil kalkulator. Loh kenapa ke dapur? Nah itu dia yang gue bingung, kenapa kalkulator gue bisa ada di dapur, jangan-jangan suka dipake nyokap buat ngulek cabe lagi, mati deh.. Eswete..
Tang ting tung pake karce pasti (b)untung..
lensa Canon EF 800mm f/5.6L IS USM : motor Honda Tiger CW = 1 : 4,93
Bayangkan, dengan uang yang sama, kita bisa mendapatkan SATU buah lensa, ya hanya satu saja, atau nyaris LIMA buah motor!
That’s why I titled this post “Life’s A Choice”. Hidup adalah pilihan. Untuk kasus ini, belilah lensa tersebut jika itu mendukung keprofesionalitasan anda sebagai fotografer dan anda dituntut untuk memilikinya dalam rangka totalitas pekerjaan. Belilah sepeda motor saja, jika anda tidak bekerja di ladangnya Om Arbain Rambey, puaslah dengan sepeda motor yang membawa anda keliling kota dan jangan bermimpi untuk membeli lensa yang tidak bisa di-mount pada kamera pocket anda. Terakhir, belilah keduanya jika anda bingung uang yang anda miliki mau disalurkan ke mana, jika masih bersisa bisa ditransfer ke rekening si blogger, hehe..
That’s all readers! Have a nice bed so u’ll have a nice sleep! =D
Heuu.. Bosan aku dengan penat, pecahkan saja gelasnya biar ramai, lalu disuru nyokap beli gelas lagi.. Ah apaan sih sumpah liburan jadi geje gini.. Hahahihihuhuhehehoho
Oh ya tadi sempet kepikir sesuatu, gue seperti menemukan sebuah ilmu filsafat terbaru bahwa hidup ini harus balance dengan proporsi yang tepat.. Seberapat tepat? Seperti apa yang tepat?
Nah itu dia, setelah jungkir balik pas mikir di ranjang waktu tidur-tiduran, akhirnya gue menemukan perbandingan yang tepat untuk sebuah kesempurnaan hidup! Yahoo!
Teori gue sih simpel aja, memadukan bentuk ekspresi orang dalam kelima huruf vokal yaitu a, i, u, e, dan o. Maksudnya gimana? Begini. Kalo kita berekspresi di sms ato msn kan biasanya pake haha ato hoho gitu.. Nah, untuk kasus ini akan digunakan kombinasinya dalam kelima huruf vokal, jadinya ada haha, hihi, huhu, hehe, dan hoho..
Jelas banget kalo ada 4 yang terlihat riang gembira ceria, yaitu haha, hihi, hehe, dan hoho! Sedangkan yang tidak riang tertimpa musibah cuma satu yaitu huhu.
Oleh karena itu, dengan teorema hahahihihuhuhehehoho kita harus hidup dengan perbandingan hidup senang dan sedih adalah 4 berbanding 1. Jadi kalo dalam rentang 5 hari kita kuliah dari senen sampe jumat, perlu banget tuh dialokasikan satu hari spesial buat sedih n nangis2an, jangan seneng2 mulu dong, wakaka.. lol
Mohon maaf lahir dan batin.
Minal aidin wal faidzin.




